Selasa, 16 Agustus 2016

ANAK ADALAH PROFESSOR

oleh:Habibah Sirojudin
Sering kali saya mendengar cerita dari seorang ayah yang baru mulai melakukan sholat saat ia memiliki anak karena anak memprotes saat ayah tak melakukan sholat, seorang ibu yang tiba-tiba berhijab karena protes sang anak pula. Saya kira andapun pernah berubah karena anak bukan ?
Selevel kakak slank pun pernah berubah karena anak, suatu ketika sang anak terus menunggu ayah nya untuk mengimaminya sholat subuh, padahal sang ayah baru saja pulang manggung.
Ya, Tak selalu anak belajar dari guru dan orang tua, di Sekolah kami Salsabila, kami siap belajar dari mereka. Karena bagi kami, mereka adalah profesor-profesor cilik yang luar biasa.
Tiga tahun lalu, saat Aza duduk di kelas Dua SD, saya belajar cara menyimpan sampah pada tempatnya sesuai prosedur. Kebiasaan saya saya saat itu membuang sampah dengan cara melempar baik dari jarak dekat atau jarak jauh yang membuat Aza tidak nyaman. Aza mengingatkan saya agar menyimpan sampah dari jarak dekat dan simpannya pelan-pelan.
"Maaf Aza bunda baru tahu caranya, terima kasih ya sudah mengingatkan." itu jawaban saya saat ia mengoreksi kesalahan.
Sejak saat itu saya menyimpan sampah pada tempatnya dekat jarak dekat dan pelan-pelan(jika ingat tentunya he) karena kadang saya menyadarinya seusai melempar sampah lalu termenung mengingat Aza. karena myelin yang sudah tebal dengan informasi dan kebiasaan negatif tak serta merta terubah dengan informasi positif yang baru saru kali. Bahkan menurut dr. Ratih perlu 700 kali membuat informasi menjadi kebiasaan. Itupun untuk anak balita yang masih suci dan belum pernah melihat informasi negatif. (jadi jangan bosan mengalirkan informasi positif dan mencontohkannya ya!)
Begitupun kebiasaan nenek yang sering melempar baju kotor ke tempat cucian, membuat nenek belajar banyak dari sang cucu.
Balita Avia ini tak segan-segan mengoreksi nenek bahkan melakukan 5 kontinum pendampingan sampai ke tahap 5.
KESATU KEHADIRAN, Ia menatap heran neneknya yang melemparkan baju kotor ke tempat cucian.
KEDUA bicara tidak langsung
"Via simpan nya pelan"
KETIGA PERTANYAAN
Kenapa ema (nenek) lempar bajunya ?
KEEMPAT PERNYATAAN LANGSUNG
Avia bicara, "Simpan bajunya pelan-pelan."
KELIMA INTERVENSI FISIK
Avia mengambil baju kotor dan menyimpannya pelan sambil bicara, "simpan pelaaan."
Bahkan Avia sampai mengulang nya tiga kali. Karena ada tiga baju yang di simpan dengan tiga kali bolak balik, mengambil dan menyimpan sambil bicara "simpan pelan."
Nah, bagi anda para orang tua dan guru, belajarlah dari anak anak didik kita, tak perlu sombong dan merasa guru tahu semua, karena anak adalah profesor kita!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar